Archive for the 'Cerpen' Category

Damai Aceh, Sebuah Penemuan

Damai Aceh, Sebuah Penemuan
Perdamaian itu bukan hanya membanggakan Indonesia, tapi teladan bagi Asia Tenggara.

Nezar patria

PERANG, kata Sir Henry Maine, adalah praktik kuno manusia. “Tetapi, perdamaian adalah sebuah penemuan modern,” tulis hakim Inggris itu, pada suatu masa di Eropa pertengahan abad ke-19. Perdamaian, boleh jadi adalah ‘penemuan modern’. Atau juga bukan. Di tengah perang yang setua usia peradaban manusia, perdamaian adalah usaha tak mudah.
Di Aceh, misalkan, orang kerap mengingat: pada satu masa, perdamaian adalah sebuah kemustahilan. Selama tiga dekade, politik di sana digerakkan amarah. Kata-kata digantikan senjata. Atas nama keadilan, konsep tentang “Indonesia” digugat Gerakan Aceh Merdeka (GAM). “Indonesia,” kata Hasan Tiro, sang pemimpin pemberontakan itu, “tak lain konsep kolonialisme Belanda, yang diteruskan oleh penjajah Jawa”.

Menggendong Mayat Anaknya karena Tak Mampu Sewa Mobil Jenazah

” Hanya ingin menyampaikan pesan yang mungkin belum tersampaikan”

PEJABAT Jakarta seperti ditampar. Seorang warganya harus menggendong mayat anaknya karena tak mampu sewa mobil jenazah.

Penumpang kereta rel listrik (KRL) jurusan Jakarta – Bogor pun geger

Minggu (5/6). Sebab, mereka tahu bahwa seorang pemulung bernama Supriono (38 thn) tengah menggendong mayat anak, Khaerunisa (3 thn).
Supriono akan memakamkan si kecil di Kampung Kramat, Bogor dengan menggunakan jasa KRL. Tapi di Stasiun Tebet, Supriono dipaksa turun dari kereta, lantas dibawa ke kantor polisi karena dicurigai si anak adalah korban kejahatan. Tapi di kantor polisi, Supriono mengatakan si anak tewas karena penyakit muntaber. Polisi belum langsung percaya dan memaksa Supriono membawa jenazah itu ke RSCM untuk diautopsi.

Continue reading ‘Menggendong Mayat Anaknya karena Tak Mampu Sewa Mobil Jenazah’

Hamparan Hakikat Cinta

Hamparan Hakikat Cinta

Rabu, 28/04/2010
Oleh Zahrul Bawady M. Daud


“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. 3:14)
Para pujangga sepakat, cinta ada di hati. Kedahsyatan cinta melahirkan jutaan inspirasi. Ia tak nampak kasat mata, namun indikasinya sangat mempengaruhi pikiran, plus mengendalikan tindakan.
Dulu, saat masa SMA, saya punya teman yang sedang dilanda kasmaran. Hari-harinya cerah-ceria, kehidupannya penuh tawa. Apa yang dia lakukan terasa ringan, apalagi jika berkaitan dengan si “dia.” Pernah, ketika orang yang dicintainya sedang ulang tahun, ia harus meminjam uang kepada temannya. Padahal hal tersebut hampir tidak pernah dilakukannya sama sekali, pun dia hidup dalam keluarga berada.
Darimana datangnya keberanian meminjam uang itu? Cinta. Benar, padahal untuk sekelas dia, meminjam uang adalah hal yang dapat kita katakan tabu. tapi semuanya sirna ketika berhadapan dengan lima huruf saja. Cinta. Meminjam kata sang sufi “CINTA”, Jalaluddin Rumi namanya, “Cinta mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat dan kemarahan menjadi rahmat. Cintalah yang mampu melunakkan besi, menghancurkan batu karang, membangkitkan kematian menjadi kehidupan, cinta pula yang membuat budak menjadi seorang pemimpin. Inilah kekuatan cinta.”

Continue reading ‘Hamparan Hakikat Cinta’

SEORANG ANAK BERTANYA PADA NENEKNYA

SEORANG ANAK B’RTNYA PD NENEKNYA
Share

Monday, April 26, 2010 at 02:30am

Seorang anak bertanya kepada neneknya yang sedang menulis sebuah surat.

Cucu: “Nenek lagi menulis tentang pengalaman kita ya? atau tentangku?”

Mendengar pertanyaan si cucu, sang nenek berhenti menulis dan berkata kepada cucunya.

Nenek: “Sebenarnya nenek sedang menulis tentang kamu, tapi ada yang lebih penting dari isi tulisan ini yaitu pensil yang nenek pakai.

“Nenek harap kamu bakal seperti pensil ini ketika kamu besar nanti” ujar sinenek lagi. Mendengar jawaban ini, si cucu kemudian melihat pensilnya dan bertanya kembali kepada si nenek ketika dia melihat tidak ada yang istimewa dari pensil yang nenek pakai.

Cucu: “Tapi nek sepertinya pensil itu sama saja dengan pensil yang lainnya.”

Continue reading ‘SEORANG ANAK BERTANYA PADA NENEKNYA’

Next Page »



Follow

Get every new post delivered to your Inbox.