Archive for the 'Cerpen' Category
Damai Aceh, Sebuah Penemuan
Published July 29, 2010 A C E H , Al-Azhar University Cairo , Cerpen , Dunia Internasional , Mesir , Opini Leave a CommentTags: Damai Aceh, Damai Aceh Sebuah Penemuan, GAM, Gerakan Aceh Merdeka, Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Hasan tiro, konsep kolonialisme Belanda, Perdamaian itu bukan hanya membanggakan Indonesia, Sebuah Penemuan, teladan bagi Asia Tenggara.
Menggendong Mayat Anaknya karena Tak Mampu Sewa Mobil Jenazah
Published July 28, 2010 A C E H , Al-Azhar University Cairo , Cerpen , Dunia Internasional , Mesir , Opini , Syariah Leave a CommentTags: Menggendong anak, menggendong mayat anak, Menggendong Mayat Anaknya karena Tak Mampu Sewa Mobil Jenazah, mobil jenazah, tak mampu sewa mobil jenazah
| ” Hanya ingin menyampaikan pesan yang mungkin belum tersampaikan”
PEJABAT Jakarta seperti ditampar. Seorang warganya harus menggendong mayat anaknya karena tak mampu sewa mobil jenazah. Penumpang kereta rel listrik (KRL) jurusan Jakarta – Bogor pun geger Minggu (5/6). Sebab, mereka tahu bahwa seorang pemulung bernama Supriono (38 thn) tengah menggendong mayat anak, Khaerunisa (3 thn). Continue reading ‘Menggendong Mayat Anaknya karena Tak Mampu Sewa Mobil Jenazah’ |
Hamparan Hakikat Cinta
Published April 29, 2010 Al-Azhar University Cairo , Cerpen , Dunia Internasional , Mesir , Opini Leave a CommentTags: Cinta, Hakikat, Hamparan, Hamparan hakikat cinta
Hamparan Hakikat Cinta
Rabu, 28/04/2010
Oleh Zahrul Bawady M. Daud
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. 3:14)
Para pujangga sepakat, cinta ada di hati. Kedahsyatan cinta melahirkan jutaan inspirasi. Ia tak nampak kasat mata, namun indikasinya sangat mempengaruhi pikiran, plus mengendalikan tindakan.
Dulu, saat masa SMA, saya punya teman yang sedang dilanda kasmaran. Hari-harinya cerah-ceria, kehidupannya penuh tawa. Apa yang dia lakukan terasa ringan, apalagi jika berkaitan dengan si “dia.” Pernah, ketika orang yang dicintainya sedang ulang tahun, ia harus meminjam uang kepada temannya. Padahal hal tersebut hampir tidak pernah dilakukannya sama sekali, pun dia hidup dalam keluarga berada.
Darimana datangnya keberanian meminjam uang itu? Cinta. Benar, padahal untuk sekelas dia, meminjam uang adalah hal yang dapat kita katakan tabu. tapi semuanya sirna ketika berhadapan dengan lima huruf saja. Cinta. Meminjam kata sang sufi “CINTA”, Jalaluddin Rumi namanya, “Cinta mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat dan kemarahan menjadi rahmat. Cintalah yang mampu melunakkan besi, menghancurkan batu karang, membangkitkan kematian menjadi kehidupan, cinta pula yang membuat budak menjadi seorang pemimpin. Inilah kekuatan cinta.”
SEORANG ANAK BERTANYA PADA NENEKNYA
Published April 26, 2010 Al-Azhar University Cairo , Cerpen , Dunia Internasional , Mesir , Opini Leave a CommentTags: Anak, Nenek, seorang anak, seorang anak bertanya pada neneknya
SEORANG ANAK B’RTNYA PD NENEKNYA
Share
Monday, April 26, 2010 at 02:30am
Seorang anak bertanya kepada neneknya yang sedang menulis sebuah surat.
Cucu: “Nenek lagi menulis tentang pengalaman kita ya? atau tentangku?”
Mendengar pertanyaan si cucu, sang nenek berhenti menulis dan berkata kepada cucunya.
Nenek: “Sebenarnya nenek sedang menulis tentang kamu, tapi ada yang lebih penting dari isi tulisan ini yaitu pensil yang nenek pakai.
“Nenek harap kamu bakal seperti pensil ini ketika kamu besar nanti” ujar sinenek lagi. Mendengar jawaban ini, si cucu kemudian melihat pensilnya dan bertanya kembali kepada si nenek ketika dia melihat tidak ada yang istimewa dari pensil yang nenek pakai.
Cucu: “Tapi nek sepertinya pensil itu sama saja dengan pensil yang lainnya.”








