Aku membencimu hingga nadiku menyatakan itu
Tetapi setiap degup jantungku hanya menyebut namamu
Ketika tombak – tombak panah itu meluncur gesit
Ketika prasasti – prasasti memecahkan kesunyian
Keletihan meronta – ronta ..
Menatap gelap suasana ketika cinta menjadi duka
Retak jiwa ini jika detik bersenandung cinta
Kokoh bathin ini ketika menit berganti masa
Jasadku meronta tatkala bayangan di depan kaca
Tanganku mencoba menggapai hal entah kemana
Terkadang kejenuhan melanda di dada
Ingin menjauh ke puncak bukit sana






