Hidup dengan apa yang ada

Hidup dengan apa yang ada
Share

Tues at 2:55am

Pernah ga Anda merasa menyesal dengan keputusan yang Anda buat pada masa lalu? Atau merasa apa yang Anda lakukan, dan apa yang ada pada Anda sekarang seakan tidak berharga? Saya pernah. dan untuk itu saya menulis note ini.

Saya kadang merasa alangkah beruntung jika saya bisa menjadi seperti si fulan atau si fulan. Tidak sekadar iri, tapi menjurus pada perasaan rendah diri. Bila mendengar ada yang baru lulus Majister misalkan, tiba-tiab muncul perasaan untuk menjadi seperti orang tersebut. Apa yang sedang saya jalani saat ini terasa seperti hilang nilainya.

Pernah saya menghadiri sidang tesis seorang mahasiswa S2 bidang tafsir.Tesisnya luar biasa. Para penguji menyampaikan banyak pujian. di akhir sidang sang Mahasiswa tadi mendapatkan gelar masternya dari Al-Azhar dengan yudisium “Summa Cumlaude”. Alah mak Oi. Seketika muncul perasaan menyesal. Kenapa saya dulu tidak memilih tafsir? Andai saja saya memilih di jurusan Tafsir, suatu saat saya pasti bisa seperti mahasiswa tersebut, bahkan mungkin lebih.

Seseorang yang saya kenal, saat ini sudah selesai kuliah dan mulai bekerja. Bahkan, menurut kabar angin sebentar lagi dia akan menikah. Alah mak oi! lagi-lagi penyesalan itu datang. Kenapa saya harus ke Mesir? kalau saya dulu memilih kuliah di Indonesia, saat ini barangkali saat ini saya sudah selesai kuliah dan sudah berkerja. (kalau mau lebih ekstrim, barangkali saat ini panggilan saya “papi” )hahaha..Ting ting..

Kejadian yang sama juga terjadi bila ada kawan yang sudah hafiz, atau bahasa inggrisnya yang luar biasa dan lain-lain. rasa-rasanya segala yang saya jalani saat ini adalah kesalahan. Penyesalan. Namun, yang paling parah adalah keirian saya terhadap orang-orang yang sukses di bidang exact, terutama dokter (cita-cita waktu kecil dulu). Koq bisa saya masuk jurusan MAK? Kenapa tidak ke IPA saja? Alah mak oi, lah mak oi.

Akhirnya, bosan dengan perasaan-perasaan seperti itu, saya mulai berpikir (Sebelumnya ga sempat mikir). Is it normal?. Wajar kah merasa seperti ini? Kesimpulan saya, INI TIDAK NORMAL. there must be something wrong. Apanya yang salah? Kembali saya berpikir.

Ada orang yang bosan dengan kondisi dunia saat ini, lalu mulai berpikir (termasuk saya). Andai saya hidup di masa para sahabat (malu rasanya kalau langsung menghayal hidup di zaman rasulullah), Insya Allah saya akan menjadi seorang yang shalih (Pake shad, bukan salih). Para sahabatkan gampang,dulu ga ada TV, ga da internet. ga da Miss Waria, ga da niga da itu. kalau ada masalah bisa langsung ke rasulullah. Iman mereka selalu terjaga. Apalagi kalau mendapat doa kebaikan dari Rasulullah. Subhanallah. (Belum lagi jika bisa termasuk dalam al-mubasysyrina bil…) Allah mak oi!
Tapi tunggu dulu. Ada yang ingat ga Kira-kira Abu lahab dan abu jahal hidup di zaman siapa? kemudian boss kaum munafik Abdullah bin Ubay bin Salul hidupnya di zaman siapa? yang paling parah, musailamah al-Kazzab hidupnya di zaman siapa? Sama. Mereka juga hidup di zaman para sahabat. Bahkan di saat Rasulullah masih di kandung hayat. Menyaksikan langsung kehidupan Nabi. Tapi, nasib mereka bertolak belakang dengan para sahabat. Para sahabat bareng-bareng ke surga, mereka malah belok ke jalan yang satunya lagi.

Ternyata, hidup di zaman Rasulullah saw ga menjadi jaminan ke-shalih-an kita gan. Ga mustahilkan kalau kita malah menjadi salah satu orang yang berteriak di padang pasir mekkah sambil membawa spanduk “GERAKAN 1 JUTA FACEBOOKER PENDUKUNG MUSAILAMAH” hehe..(Na’uzubilllah). Malahan, setelah membaca perjalanan hidup para sahabat,kita tahu bahwa kehidupan mereka ternyata ga gampang. Demi mempertahankan keimanan, kadang nyawa menjadi taruhan.

So, let’s face the fact. Kenyataannya kita hidup di zaman yang berbeda dengan para sahabat. ga bisa ditolak. Penentu kemenangan dan kekalahan kerajaan Doenya atau kerajaan Akhirat ada pada kita, bukan pada kapan kita hidup. what do you think?

Beralih ke kasus lain. “Kalau saja saya tidak ke Mesir, barangkali saat ini saya sudah selesai, dan barangkali saya sudah bekerja”. Pernah saya berpikir demikian. Tapi, ada ga yang menjamin kejadiannya akan seperti yang saya pikirkan? TIDAK ADA. Buktinya ga semua teman-teman saya kuliah di Indo sudah selesai saat ini,dan yang sudah selesai ga da yang jamin bisa langsung kerja.( Maaf kawan-kawan. tidak bermaksud menyinggung siapa-siapa. Hanya ingin menyampaikan isi pikiran saya. Sekali lagi maaf).

Kembali ke permasalahan utama. Kenapa perasaan “menyesal” tersebut bisa muncul? Salahnya ada di mana? SALAHNYA ADA PADA KESYUKURAN KITA. YA, RASA SYUKUR ATAS APA YANG KITA PUNYA.

Waktu, ilmu, kesempatan, harta, teman, suasana, teman dan segala yang kita punya adalah anugerah paling indah dari yang MAHA KUASA. Namun, hanya orang-orang yang memiliki rasa syukur yang bisa menilainya dengan benar. Ketika rasa syukur HILANG, segala kenikmatan yang ada terasa tak berharga. Akhirnya, kita mencari kenikmatan yang di tempat yang lain, yang pada pada orang lain. Padahal, segalanya sudah ada pada kita. Hanya saja, tanpa rasa syukur, mata hati kita buta.

Setiap melihat kesuksesan , prestasi, dan kebahagiaan orang-orang di sekitar kita, kita akan berkata: “ya, saya mau yang seperti itu. Saya seharusnya tadi masuk ke jurusan itu. Maunya dulu saya memilih universitas yang itu”. Begitulah seterusnya. Nikmat yang sudah ada, perlahan-lahan pergi tanpa sempat kita cicipi. Alah mak oi..lah mak oi.

Setiap kita punya jalan yang berbeda, tapi kesempatan kita sama. Wallahu A’lam. Terima kasih atas waktu Anda.:)
Darrasah, 19 April 2010.

By:

Husni Moechtar

1 Response to “Hidup dengan apa yang ada”


  1. 1 syakir April 22, 2010 at 8:07 am

    Lanjut Husn… Pantang menyerah…
    sang jeut keu bahan renungan…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s




Admin

myp0s
suk4rsa
LuXs


Photobucket
free counters





%d bloggers like this: