Archive for July, 2010

Damai Aceh, Sebuah Penemuan

Damai Aceh, Sebuah Penemuan
Perdamaian itu bukan hanya membanggakan Indonesia, tapi teladan bagi Asia Tenggara.

Nezar patria

PERANG, kata Sir Henry Maine, adalah praktik kuno manusia. “Tetapi, perdamaian adalah sebuah penemuan modern,” tulis hakim Inggris itu, pada suatu masa di Eropa pertengahan abad ke-19. Perdamaian, boleh jadi adalah ‘penemuan modern’. Atau juga bukan. Di tengah perang yang setua usia peradaban manusia, perdamaian adalah usaha tak mudah.
Di Aceh, misalkan, orang kerap mengingat: pada satu masa, perdamaian adalah sebuah kemustahilan. Selama tiga dekade, politik di sana digerakkan amarah. Kata-kata digantikan senjata. Atas nama keadilan, konsep tentang “Indonesia” digugat Gerakan Aceh Merdeka (GAM). “Indonesia,” kata Hasan Tiro, sang pemimpin pemberontakan itu, “tak lain konsep kolonialisme Belanda, yang diteruskan oleh penjajah Jawa”.
Advertisements

Keajaiban Manusia Akhir Zaman

“Keajaiban Manusia Akhir Zaman”

Thursday, July 22, 2010 at 2:33am

Keajaiban Manusia Akhir Zaman

Sesungguhnya keajaiban manusia di akhir zaman ini sangat banyak dan nyata sekali. Terkadang kita kurang jeli memperhatikannya sehingga terlihat dunia ini berjalan baik-baik saja. Namun, bila kita cermati dengan baik, kita akan menemukan segudang keajaiban dan keanehan dalam kehidupan manusia akhir zaman dan hampir dalam semua lini kehidupan. Keajaiban yang kita maksudkan di sini bukan terkait dengan persitiwa alam seperti gempa bumi, tsunami dan sebagainya, atau kejadian yang aneh-aneh lainnya, melainkan pola fikir manusia yang paradoks yang berkembang biak di akhir zaman ini.

Berikut ini adalah sebagian kecil dari berfikir paradoks yang berkembang akhir-akhir ini dalam masyarakat luas. Lebih ajaib lagi, berfikir paradoks tersebut malah dimiliki pula oleh sebagian umat Islam dan para tokoh mereka. Di antaranya :

Continue reading ‘Keajaiban Manusia Akhir Zaman’

Menggendong Mayat Anaknya karena Tak Mampu Sewa Mobil Jenazah

” Hanya ingin menyampaikan pesan yang mungkin belum tersampaikan”

PEJABAT Jakarta seperti ditampar. Seorang warganya harus menggendong mayat anaknya karena tak mampu sewa mobil jenazah.

Penumpang kereta rel listrik (KRL) jurusan Jakarta – Bogor pun geger

Minggu (5/6). Sebab, mereka tahu bahwa seorang pemulung bernama Supriono (38 thn) tengah menggendong mayat anak, Khaerunisa (3 thn).
Supriono akan memakamkan si kecil di Kampung Kramat, Bogor dengan menggunakan jasa KRL. Tapi di Stasiun Tebet, Supriono dipaksa turun dari kereta, lantas dibawa ke kantor polisi karena dicurigai si anak adalah korban kejahatan. Tapi di kantor polisi, Supriono mengatakan si anak tewas karena penyakit muntaber. Polisi belum langsung percaya dan memaksa Supriono membawa jenazah itu ke RSCM untuk diautopsi.

Continue reading ‘Menggendong Mayat Anaknya karena Tak Mampu Sewa Mobil Jenazah’

Pinangan Tgk. Husni Muchtar

Pinangan Tgk. Husni Muchtar

Tgk. Husni perle BPH, ketua dan anggota departemen dalam wate bagah, karena na padum boh kegiatan dan kegiatan Ramadan ka dilike mata. Menyoe na yang dilake le Tgk. Husni untuk bersama mengurus KMA, maka sangat diharapkan bek netulak, karena ajakan Tgk. Husni hakikat jih adalah representasi dari ajakan seluruh anggota KMA. Dan ureng yang dipileh le Tgk. Husni adalah ureng yang dipercaya, maka bek nesia-siakan atau nekecewakan kepercayaan.

Hana alasan KMA butuh pengurus yang mau, bukan pengurus yang mampu dan sebagai jih,,, karena menyoe tapegah mau atau hana, mandum hana mau. Kon nyoe menan tengku? Tgk. Husni pih dipileh kon karena alasan mau, tapi karena kelayakan, kemudian lehnyan baro muncul kemauan. Karena amanah KMA yang direpresentasikan oleh Syura memang hana sembarangan ureng yang dipileh. Oleh karena nyan, bagi ureng-ureng yang dianggap layak le Tgk. Husni, adak jet tentang “mau” bisa diolah lebih lanjut.

Continue reading ‘Pinangan Tgk. Husni Muchtar’

Siapa Menyelamatkan Anak Kecil Aceh, Menyelamatkan Seluruh Aceh (5-selesai)

Perang Dunia Kedua dan pembunuhan Yahudi oleh Nazi memang sudah selayaknya mendapat tempat dalam pendidikan sekolah kita di Belanda. Kedua subyek sejarah tersebut beruntung mendapat tempat yang dominan dalam otak generasi muda kita. Tetapi hal itu juga sayangnya menimbulkan beberapa dampak negatif. Kapasitas otak relatif kecil dan kita khawatir tidak ada tempat lagi untuk subyek sejarah yang penting seperti Perang Aceh yang berlangsung selama 30, 40 atau bahkan 70 tahun. Juga terlalu sedikit, sangat sedikit perhatian yang diberikan para dosen untuk episode yang sangat berarti ini dalam sejarah kita.

Akibatnya adalah ingatan yang semakin terpinggirkan tentang perang ini. Hal ini diperburuk oleh banyaknya monumen kenangan dan peringatan di negara kita tentang Perang Dunia Kedua namun sangat sedikit sekali tentang Perang Aceh. Monumen dan tempat-tempat bersejarah di Aceh buat kita jauh letaknya dan dengan demikian juga tidak mudah untuk dikunjungi secara massal dari negara kita.

Continue reading ‘Siapa Menyelamatkan Anak Kecil Aceh, Menyelamatkan Seluruh Aceh (5-selesai)’

Siapa Menyelamatkan Anak Kecil Aceh, Menyelamatkan Seluruh Aceh (4)

Ini sebagian dari puisi kepahlawanan Aceh yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Belanda: (21)

Daarom, teungkoes, weest niet nalatig.

Volbrengt de godsdienstplichten, o broeders.

O, vrienden, er is geen enkele goede daad,

Die het oorlogvoeren overtreft.

De Heilige Oorlog is u als plicht opgelegd,

Begrijpt dat goed, o broeders!

Eerst komt de geloofsbelijdenis, dan de sembahjang

(dagelijks 5x bidden-Red),

Ten derde het oorlogvoeren tegen de Hollanders.

Oleh sebab itu, tengku, jangan tidak peduli

Kerjakanlah kewajiban beragama, o saudaraku

Oh, kawan, tidak ada satu pun kebaikan,

Yang melebihi perjuangan dalam peperangan

Perang jihad adalah kewajibanmu

Pahamilah hal itu, o saudaraku!

Pertama membaca syahadat, kemudian shalat,

Ketiga berperang melawan Belanda.

Continue reading ‘Siapa Menyelamatkan Anak Kecil Aceh, Menyelamatkan Seluruh Aceh (4)’

Siapa Menyelamatkan Anak Kecil Aceh, Menyelamatkan Seluruh Aceh (3)

Anda bisa membayangkan Van Heutsz, dengan tangan di belakang, perut buncit, memberi kesan sebagai seorang militer superior yang arogan. Tetapi di bawah kepemimpinan penerus Van Heutsz, yaitu Van Daalen, baru terjadi perubahan. Selama ‘ekspedisi’nya ke pedalaman Gayo dan Alas, semua isi kampung dibunuh. Van Daalen dan pasukannya memerintahkan agar apa yang mereka lakukan diabadikan melalui foto, dengan penuh kebanggaan, yaitu tumpukan mayat dengan seorang anak lelaki yang kebetulan selamat dari huru-hara itu disampingnya.

Para pejabat Belanda yang dipermalukan oleh Van Daalen menulis secara anonim kenyataan yang mencengangkan itu di koran-koran Belanda. Para anggota Parlemen yang terkejut (di antaranya Victor de Stuers) mengkritik bahwa ’Pemerintah menyebutnya ekskursi, tetapi saya menyebutnya sejarah pembunuhan’. Koran Het Volk menulis pada tanggal 17 Juli 1904 ‘sebuah negara yang beradab dan berperikemanusiaan tidak seharusnya menyanjung seseorang (Van Heutsz) yang telah menumpahkan darah’.

Continue reading ‘Siapa Menyelamatkan Anak Kecil Aceh, Menyelamatkan Seluruh Aceh (3)’


Admin

myp0s
suk4rsa
LuXs


Photobucket
free counters